Skip navigation

Category Archives: Cuplikan

A Deal, lets make a deal..

said the Devil.

“No, absolutely not” said the man with the big eyes.

“Sure, let’s make a deal” said the man with the big mouth.

Read More »

no matter who it is, we will all think about death in some time of our lives. why is that? because death is the biggest fear of living being.

the wise tell us that death is merely a gateway to peace and tranquility. nevertheless, we cannot eliminate our fear for death.

no matter what people say, we hold the idea that they’re all thoughts of “people that are still living”

so whatever it is that you seek from other, it cannot help you erase your fear.

but, can you ask yourself this question? what hopes do you hold in living until today??
and what hopes do you hold to want to keep on living??

so lets be a little imaginative.. imagine that even when you cease to live, your hopes are still being caried by someone ..
and this person, to fulfill this wish, will strive to live out his best..

then because of your wish, the future you cannot see is directed slightly to a better path

if you can imagine that, then starting from that moment you wil live on
instead of being afraid of death, why not think about your one true wish.. and a person who carry it on..

could you do that? could you think about it? you still have a plenty of time

*quote from manga Ikigami

Yvaine:

You know when I said I knew little about love?
That wasn’t true.
I know a lot about love.
I’ve seen it, centuries and centuries of it, and it was the only thing that made watching your world bearable.

All those wars. Pain, lies, hate… It made me want to turn away and never look down again.
But when I see the way that mankind loves…
You could search to the furthest reaches of the universe and never find anything more beautiful.

So yes, I know that love is unconditional.
But I also know that it can be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and strangely easy to mistake for loathing, and…

What I’m trying to say, Tristan is… I think I love you.
Is this love, Tristan?
I never imagined I’d know it for myself.

My heart… It feels like my chest can barely contain it.
Like it’s trying to escape because it doesn’t belong to me any more. It belongs to you. And if you wanted it, I’d wish for nothing in exchange – no gifts.
No goods.
No demonstrations of devotion.
Nothing but knowing you loved me too.

Just your heart, in exchange for mine.

*quote from movie Stardust

Enough Happines To Keep You Happy

by BJ Morbitzer

May you have enough happiness to keep you happy,
enough trial to keep you strong,
enough sorrow to keep you human,

enough hope to keep you thoughtful,
enough failure to keep you humble,
enough success to keep you eager,

enough friends to keep you comfort,
enough wealth to meet your daily needs,
enough faith and encourage in yourself to banish depression,

enough enthusiasm to make you look forward to tomorrow,
enough determination to make each day a better day than yesterday..

Advancing down one path is beautiful in itself but usually doesn’t go that way

hesitation..
mistakes..
and diversions occur..

Because of those, you try to turn around, but you’re hit this way.. and hit that way..

your path, which you lost due to hesitation

Surely it expands more than anyone else..

for they whose dream seems astray

Memories are a way keeping the past alive, somewhere so painful we never want to visit them again..

But a memory can also be a gift, something we can open again and again in order to fill ourselves with happiness..

And sometimes a moment become a memory the instant it’s happening, because it is so true, so pure, so significant.. You want to capture it forever..

*quote from Kyle XY

“Selamat siang“, sapa si Rubah.

“Selamat siang“, jawab Pangeran Kecil sopan, mendongak tapi tidak melihat apa-apa.

“Aku disini”, kata suara itu, “di bawah pohon apel“

“Siapa kau?“ tanya Pangeran Kecil, “Kau cantik sekali“.

“Aku Rubah “ jawab si Rubah.

“Kemari, bermainlah denganku.” kata Pangeran Kecil. “Aku sangat sedih.”

“Aku tidak bisa bermain denganmu,” kata Rubah. ”Aku belum dijinakkan.”

“Ah! Maafkan aku,” kata Pangeran Kecil. Tetapi setelah berpikir beberapa saat, dia menambahkan “Apa artinya itu – menjinakkan?”

Menjinakan artinya menjalin ikatan.”

“Itu adalah tindakan yang sering diabaikan,” kata Rubah. “Menjinakan artinya menjalin ikatan.”

“Menjalin ikatan?”

“Begitulah” kata Rubah. “Bagiku, kamu saat ini tidak lebih dari seorang bocah kecil yang sama saja dengan ribuan bocah kecil lainnya. Dan aku tidak membutuhkanmu. Dan kamu sendiri tidak membutuhkan aku. Bagimu, aku tidak lebih dari seekor rubah seperti ratusan ribu rubah lainnya. Tapi jika kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kamu akan menjadi satu-satunya di dunia. Bagimu, aku akan menjadi satu-satunya di dunia…

jika kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kamu akan menjadi satu-satunya di dunia. Bagimu, aku akan menjadi satu-satunya di dunia…

“Hidupku sangat membosankan,” kata Rubah. “Aku berburu ayam, manusia memburuku. Semua ayam sama saja, dan semua manusia sama juga. Dan, akibatnya, aku jadi agak bosan. Tapi jika kamu menjinakkan aku, akan terasa seolah matahari menyinari hidupku. Aku akan mengenali suara langkah yang terdengar berbeda dari semua langkah lain. Langkah-langkah lain akan mendorongku bergegas kembali ke bawah tanah. Tapi langkahmu akan memanggilku, seperti musik, keluar dari persembunyianku. Dan coba lihat: kamu lihat ladang gandum jauh disana? Aku tidak makan roti. Gandum tidak ada manfaatnya bagiku. Ladang gandum tidak punya arti apa-apa bagiku. Dan itu menyedihkan. Tapi rambutmu berwarna emas. Pikirkan betapa indah jadinya nanti jika kamu telah menjinakkan aku! Butir-butir gandum, yang juga berwarna keemasan. Akan membuatku ingat kepadamu. Dan aku akan senang sekali mendengarkan suara angin yang meniup butir-butir gandum….”

Lama, Rubah itu manatap sang Pangeran Kecil.

little prince and the fox

“Tolong-jinakkan aku!” katanya.

“Aku ingin, ingin sekali,” sahut Pangeran Kecil. “Tapi aku tidak punya banyak waktu. Ada banyak teman yang harus kucari, dan banyak hal yang harus kumengerti.”

“Orang hanya bisa mengerti hal-hal yang dijinakkannya,” kata Rubah. “Manusia tidak punya waktu lagi untuk mengerti apa pun. Mereka membeli barang yang telah disediakan toko. Tapi di mana-mana tidak ada toko yang menjual persahabatan, dan karenanya manusia tidak punya teman lagi. Jika kamu ingin punya teman, jinakkan aku…”

“Apa yang harus kulakukan, untuk menjinakkan kamu?” tanya Pangeran Kecil.

“Kamu harus sabar sekali,” sahut Rubah. “Pertama-tama kamu duduk agak jauh dariku – seperti itu diatas rumput. Aku akan memandangmu dari sudut mataku, dan kamu tidak boleh bilang apa-apa. Kata-kata adalah sumber kesalahpahaman. Tapi kamu akan duduk lebih dekat denganku setiap hari…”

Kata-kata adalah sumber kesalahpahaman.

Maka Pangeran Kecil menjinakkan Rubah. Dan ketika waktu perpisahan mereka hampir tiba

“Ah,” kata Rubah, “Aku akan menangis”

“Itu salahmu sendiri,” kata Pangeran Kecil. “Aku tidak pernah berkeinginan mencelakaimu sama sekali, tapi kamu ingin aku menjinakkan kamu….”

“Ya, memang begitu,” kata Rubah

“Jadi itu tidak mendatangkan kebaikkan bagimu sama sekali!”

“Itu baik untukku,” kata Rubah, “Karena warna ladang gandum itu.” lalu dia menambahkan “Pergi dan lihatlah lagi bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti sekarang bahwa bungamu adalah satu-satunya di seluruh dunia. Lalu kembalilah dan ucapkan selamat tinggal padaku, aku akan memberimu hadiah berupa sebuah rahasia.”

Pangeran Kecil pergi, untuk melihat kembali bunga-bunga mawarnya.

“Kamu sama sekali tidak seperti bunga mawar milikku,” katanya pada bunga-bunga. “Jadi kamu tidak ada artinya. Tidak ada yang menjinakkan kamu, dan kamu tidak menjinakkan siapa-siapa. Kamu seperti rubahku ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia hanya seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tapi aku telah menjadikannya temanku, dan kini dia menjadi satu-satunya di seluruh dunia.”

Dan mawar-mawar itu sangat malu.

“Kamu cantik, tapi hampa,” lanjutnya.”Tidak ada yang bersedia mati demi kamu. Tentu, orang yang lewat akan mengira bahwa bunga mawarku tampak persis seperti kamu, mawar yang kumiliki. Tapi hanya dialah yang lebih penting daripada ratusan ribu mawar lainnya. Sebab dialah yang kulindungi dari balik tabir, karena demi dialah aku membunuh ulat (kecuali dua atau tiga di antara mereka yang kami selamatkan agar menjadi kupu-kupu), karena dialah aku mau mendengarkan, ketika dia mengomel, atau membual, atau bahkan kadang-kadang ketika dia tidak bilang apa-apa. Karena dia adalah mawarku.”

Dan dia kembali untuk menemui Rubah.

Hanya dengan hatilah orang bisa melihat dengan benar, hal apa yang terpenting itu tidak dapat dilihat dengan mata.

“Selamat tinggal” katanya

“Selamat jalan” kata Rubah. “Dan sekarang inilah rahasiaku, rahasia yang sangat sederhana. Hanya dengan hatilah orang bisa melihat dengan benar, hal apa yang terpenting itu tidak dapat dilihat dengan mata.”

“Apakah yang terpenting yang tidak dapat dilihat dengan mata?” ulang pengeran kecil supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

“Waktu yang telah kamu habiskan untuk mawarmu itulah yang membuat mawarmu begitu penting.”

“Waktu yang telah aku habiskan untuk mawarku?” kata pangeran kecil, supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

Kamu bertanggung jawab, selamanya, terhadap apa yang telah kamu jinakkan

“Manusia telah melupakan kebenaran ini,” kata rubah. “Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu bertanggung jawab, selamanya, terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab terhadap mawarmu….,”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.